March 12, 2009...7:10 am

Untuk J

Jump to Comments

Music : The Beatles – Eleanor Rigby

Saya nggak bisa ingat kapan pertama kali saya berkenalan dengannya. Yang saya ingat adalah suatu sore waktu saya main badminton bersama seorang teman di lapangan dekat rumah dia tiba-tiba datang dan mengambil raket dari tangan teman saya dan tanpa permisi menggantikannya main badminton–diiringi tatapan tak percaya dari saya.

(Sial, siapa sih ini orang, pede banget)

Saya memang pernah melihatnya beberapa kali, dia baru pindah, dan rumahnya berdekatan dengan rumah saya. Cuma saya sama sekali belum pernah bertegur sapa, dan bahkan tidak tau namanya. Jadi sore itu ‘ajakan’ bermain badminton darinya saya anggap kurang ajar.

Nggak butuh waktu lama untuk tau bahwa dia suka sama saya. Waktu itu dia kuliah di luar kota, sementara saya masih kelas satu SMA. Saya ingat setiapkali dia libur kuliah dia selalu main ke rumah teman yang letaknya memang bersebelahan dengan rumah saya, tapi saya tau itu cuma usaha biar saya keluar rumah dan gabung dengan mereka.

Saya ingat suatu siang ketika saya duduk di teras rumah dia datang dengan tersenyum-senyum dan menyerahkan kaset soundtrack Dawson’s Creek buat saya. I hate myself for losing that casette.

Saya ingat suatu Minggu dia gereja dia menatap saya lama dan bilang saya cantik sekali.

Saya ingat pertama kalinya dia berani datang ke rumah saya, tapi biar orangtua saya nggak curiga dia bawa ‘pasukan’  :mrgreen: Dan kali berikutnya dia datang, dia menemukan diary saya dan bertanya apa boleh dia meminjamnya. Walaupun terasa aneh, saya mengiyakannya. Dan ketika diary itu kembali seminggu kemudian, ada tulisan darinya tentang betapa beruntungnya orang yang pernah menjadi pacar saya dan betapa sayangnya dia ke saya. Dan saya menangis.

Saya ingat ketika dia akhirnya meminta saya jadi pacarnya suatu malam. Setelah saya membiarkannya menunggu lama sekali, saya bilang saya juga mencintainya. Tapi saya juga menyakitinya.

Saya bilang saya cinta tapi saya tak kunjung bersedia jadi pacarnya. Saya tak kunjung bersedia jadi pacarnya tapi saya tetap inginkan perhatiannya dan saya cemburu ketika ada perempuan lain yang dekat dengannya.

Saya merasa kehilangan ketika dia semakin jarang pulang sewaktu liburan kuliah. Dia tidak tau saya mencarinya. Dia tidak tau saya ingin ngobrol-ngobrol berdua di teras rumah saya. Dia tidak tau kalau saya kangen. Dia tidak tau kalau saya ingin minta maaf.

Dan sampai sekarang pun saya belum punya kesempatan untuk minta maaf darinya. Saya nggak peduli kalau kejadian itu udah sepuluh tahun yang lalu. Sejak keluarga saya pindah ke kota lain saya nggak tau lagi kabarnya, saya nggak tau dia sekarang di mana, atau berapa nomor teleponnya, baik-baik sajakah dia?

J, I just want one chance to meet you, to say that I’m sorry… I never meant to do bad things to you, that you are truly a nice person and you really deserve a better girl, and well always be friends :)

2 Comments

  • Saya bilang saya cinta tapi saya tak kunjung bersedia jadi pacarnya. Saya tak kunjung bersedia jadi pacarnya tapi saya tetap inginkan perhatiannya dan saya cemburu ketika ada perempuan lain yang dekat dengannya.

    oh no….
    you make him so..so..so..feel hurt…
    mungkin J itu sifatnya mirip gw…
    LOL….

    • yah, begitulah Poon… hal paling kejam yang dilakukan wanita terhadap pria

      it’s so self-centered…


Leave a Reply