August 8, 2008...3:29 am

YK, July 29th-Aug 3 2K8

Jump to Comments

Music : Tegan & Sara – Back In Your Head

Well, helloooo peopleLong time no blogging ya? Selama kurang lebih sepekan kemarin memang saya sejenak mengundurkan diri dari hecticnya dunia pekerjaan (yearite), macetnya jalanan Jakarta, dan personally, my chaotic life . Ke Yogyakarta…

Ehm, sebenernya sih hidden agenda saya ke sana adalah pengen menemui seseorang yang I’m dying to meet, seseorang yang sudah begitu lama mengisi hari-hari saya with joy, laughter, blushing cheeksOkay then , sebelum yang bersangkutan salah tingkah, saya ceritain aja acara jalan-jalan saya (baca:kita) ini ke kota gudeg sana.

Saya berangkat dari Jakarta tanggal 29 Juli pukul 8.15 pagi naik kereta Taksaka. Hampir telat karena saya paginya masih packing dan nyetrika-nyetrika, sampe obat-obatan saya ketinggalan. Sementara travelmate saya itu berangkat sekitar pukul 15.00 WIT dari Ambon. Waaaa… jauh banget ya terbang buat nemuin saya?

Pukul 17.00 saya udah check in di hotel Bifa (quite nice service ), Jl. Perintis Kemerdekaan No. 78. Kalo di Jogja sana sih jaraknya cukup jauh ke pusat kota. Thank God selama ini tinggal di Jakarta, jadi jarak tempuh 15 menitan mah masih keciiil.

Skip to two days later >>>

Setelah browsing kemaren, (thanks to yogyes.com) kita akhirnya nyewa mobil buat dipake jalan 12 jam , milihnya yang udah dipaketin seharga Rp. 375.000, harga udah termasuk BBM, air minum, snack, plus sopir, jadi kita cuma bayar tiket masuk tempat wisata, parkir, dan semacamnya. Paket turnya ke lima tempat, kraton, Tamansari, Pantai Parangtritis, Pantai Depok, dan Pantai Glagah. Tapi karena pantai yang terakhir letaknya agak jauh, mas sopirnya bilang nggak akan ke sana, jadi silahkan diganti sama belanja-belanja di mana gitu sampe waktunya habis. Terus kenapa masih dicantumin di paket? Gelo siah

Kraton… Hemphh… No offense, entah apa yang bisa dilihat di situ, cuma pendopo nggak jelas, beberapa ekor ayam di kandang, foto-foto kereta yang pernah digunakan keluarga Sultan, sama beberapa manekin berpakaian adat yang dipajang di ruangan kaca. Saking malesnya kita langsung cabut dan nggak kepikiran buat ngunjungin museum Kereta Api yang lokasinya ternyata nggak jauh dari Kraton.

Next stop, Tamansari The Water Castle alias istana air. It’s a quite beautiful place, showing what’s left dari sebuah pesanggrahan seorang Sultan. Kita diantar sama bapak penduduk lokal yang secara sangat halus memaksa kita menggunanakan jasanya sebagai guide. Tapi ada manfaatnya juga sih, kalo nggak ada bapaknya mungkin kita nggak akan mengeksplore tempat itu secara menyeluruh. Setelah ngeliat kolam dan kamar Sultan ‘where all the miracles happened’, kita diajak ke tempat pertapaan Sultan yang lokasinya berada di pemukiman penduduk. Tempat pertapaan ini desainnya bergaya Oriental dan di dalamnya ada semacam bak yang berhadap-hadapan untuk Sultan dan calon permaisurinya bertapa. Yang bikin saya takjub, bangunannya dulu hanya dibangun dari campuran putih telur, air kelapa, dan pasir. Cool! Kalo Sultan pengen bertapa, baknya akan diisi air dan kembang serta dikasih tirai berupa kain putih dan Sultan akan duduk di atasnya. Sementara di bak yang satunya akan bertapa pula calon permaisuri yang dipilih dari pemandian (kolam di kompleks depan) Harus kuat selama 10 hari bo!! Kalo nggak step over, lady… Berat ya jadi permaisurinya Sultan? Just ask Cinderella, dia aja cuma nyobain sepatu doang dan voila! She lived happily ever after with the prince.

Selanjutnya kita berjalan lumayan jauh ke masjid bawah tanah yang lokasinya agak melipir keluar kompleks. Kita diajak masuk ke tempat imam memimpin sholat (kalo nggak salah), dan menurut pengakuan bapaknya walaupun langit-langit ruangan cukup rendah dan bisa digapai, tapi orang asing (turis mancanegara) nggak akan nyampe. Nggak ngerti juga sih, karena sumpah ruangannya gelap banget, nggak bisa liat apa-apa. Habis itu foto-foto di tangga bercabang lima (melambangkan sholat lima waktu), untungnya ada mas-mas yang berbaik hati mau memotret kita dari atas. Saya masih penasaran, kayaknya ada band yang pernah syuting video klip deh di situ. Dan bapaknya say something about lorong yang katanya bisa nembus langsung ke Laut Selatan, saya nggak terlalu merhatiin, heuehuehue. Lalu kita ngelewatin lorong yang sangat lembap yang berakhir di taman depan tempat mobil sewaan kita parkir. End of journey :)

Third stop, if it’s not Parangtritis beachPlease laugh, tapi sebelumnya saya sempat mikir juga mau ke sana soalnya hari itu baju saya serba hijau :mrgreen: Tapi setelah diyakinkan si bapak guide sama mas sopir yang dandy ya udahlah cuek aja. Berangkaaat!! Habis dari situ, kita berkendara sekitar 15 menitan menuju pantai berikutnya, Pantai Depok, ombaknya lumayan ganas loh. One of the main attractions of this beach, ada banyak penjual ikan segar di sekitar pantai, dan kita bisa memilih berbagai jenis hewan laut untuk dibeli. Saya milihin bawal, kakap, sama cumi masing-masing setengah kilo buat dimasak. Total damagenya ? Lumayan murah juga sih, cuma habis 40 ribu (tolong dikoreksi murah apa nggak tuh, udah lama nggak ke pasar)

Selesai bertransaksi kita ngasih ikan-ikan belanjaan kita sama ibu-ibu yang nawarin untuk masakin ikan kita. Saya pesan bawalnya dibakar, kakapnya dimasak asam pedas, dan cuminya digoreng tepung aja. Dia bilang sih “Mbak jalan sendiri ya? Tempat makan saya yang paling Barat tuh, nanti langsung masuk aja” Satu hal yang saya nggak ngerti kenapa masyarakat Jawa ini kalau mau nunjukin jalan pake bilang Timur, Utara, Barat sih? Saya kan nggak ngerti arah mata angin..

Well, ternyata ibunya serius bilang lokasinya paling Barat, karena restonya benar-benar di ujuuuuuuuung banget. Kesel ah. Kembalikan ikan kami!!! *lirik bebe* :lol:

Pas menunya dateng, ternyata jadinya banyak banget. Karena saya nggak suka kakap asam pedasnya yang dikasih terlalu banyak jahe, saya kebanyakat menyikat bawalnya. Masakannya lumayan enaklah, untuk setiap kilo ikan/udang/cumi/kepiting, kita dicharge ongkos masak Rp. 6000, ditambah Rp. 10.000 untuk nasi putih sebakul kecil plus lalapan dan sambal.

Habis makan, tadinya sih pengen nungguin sunset. Cuma saya agak kecewa karena di bayangan saya sunset itu gambarannya kayak di postcards atau lukisan-lukisan — mataharinya terlihat perlahan tenggelam di tengah lautan. Ternyata ini mataharinya jauh banget di sebelah Barat. Yah… nggak ada indah-indahnya, pulang aja deh. Hhwhuahuwauahwu.

Sebenarnya saya masih di Jogja sampe tanggal 3 Agustus, tapi tak usahlah saya ceritakan kisah-kisah lainnya. It’s confidential ;) Most of all, liburannya saaangat menyenangkan dan kayaknya enam hari terasa sangat kurang buat saya. But, a great journey is nothing without a great companion . Makasih buat seseorang di sana yang udah jauh-jauh terbang ke Jogja, jangan kapok ya liburan sama saya? :mrgreen:

7 Comments

  • Wewwww….sepertinya menyenangkan sekali !! :)
    sayang nggak ada fotonya…btw, aku orang jawa, tapi juga buta mata angin…paling bingung kalo ada orang ngomong “ke timur, ke barat, ke selatan, ke utara…” hehehe… :mrgreen:

    hayahh… lupa banget masukin fotonya

    makasih udah diingetin ya mas? udah mulai pikun kayaknya nih

  • trus… semacam oleh2nya juga dilupakan ini… (^_^)’

    ah, situ juga lupa kalii minta dibawain oleh2, hihihihihi

  • wah asiknya liburan… ajak2 napa? hehe

    kan kemaren lo udah dari Bali, gantian dong ah…

  • waah, ke jogja. kampung halaman. lama bgt ga pulang ampe lupa kapan :( *apa coba mellow di blog orang?*

    tapi setuju ma tamansari yang bagus dan kraton yang… *ga usah disebut*

    syukur deh kalo menyenangkan. saya sebagai empunya kota merasa bangga, halah

    btw, lagunya udah dapet tuh, kebagian dari temen dari dirimu di fordis, hihihi
    *ga penting bgt*

    sayangnya kemaren nggak sempat ke Kaliurang, kurang komplit jalan-jalannya :(

    love the song? heehee

  • jalan-jalannya asik juga :)

    cenchu saja… mau ikut kapan-kapan?

  • woiii kagak bilang2 ni si ibu satu ini ke zogza
    hihihi gpp deh,lg mo dua2an yee
    drpd ntar gw ngerusak suasana ;p

    hikhikhikhi… namanya juga kabur ke Jogja berdua :oops:

    kemaren kita nyasar jalan kaki sampe Samirono Baru, rumah lu di daerah situ kan?

  • Jogja?
    Sering kesana, tapi ga pernah yang ikutan tour model begitu, Luz. Agak terheran-heran juga, ternyata ada banyak cerita ya di sana.. :)

    Eh,
    jadi penasaran sama ‘temen di Jogja’ itu. Ada liputan khususnya ga Luz? hehehe

    kita mah ikut tur karena ‘buta’ Jogja jeung, heheheheh

    waa, skandal itu, skandal… masuk X-Files deh pokoknya :mrgreen:


Leave a Reply