Music : Coco Lee – A Love Before Time
Hmphhh… Udah tujuh belas tahun sejak saya masuk Sekolah Dasar, dan cita-cita favorit anak Indonesia kalau ditanya masih saja dokter atau polisi. Ada yang bisa menjelaskan kenapa anak-anak itu (termasuk Anda dulu, mungkin) sangat menggilai profesi dokter atau polisi?
Saya sih nggak pernah bercita-cita jadi dokter. Bagaimana mungkin saya mau jadi dokter? Saya sangat takut sama yang namanya dokter dan rumah sakit, karena sewaktu kecil saya memang sakit-sakitan dan selalu berurusan dengan dokter berikut jarum suntiknya. Anehnya walaupun tiap bulan selalu jadi pasien langganan, saya selalu menganggap dokter itu menyeramkan dan kejam. Makanya saya heran kenapa anak-anak sangat banyak yang punya cita-cita jadi dokter.
Jadi kalau dulu Luz ditanya cita-citanya apa, Luz jawabnya apa dong?
— berpikir sangat lama—
Nahh… Itulah yang ingin saya ceritakan sekarang. SAYA NGGAK PERNAH PUNYA CITA-CITA. Dhuarrrr!!! Kaget? Saya juga…
Hahhhhahah… Sebenarnya saya sangat geli membayangkan kok bisa sih dulu saya bener-bener nggak pernah memikirkan mau jadi apa saya kalau udah besar nanti? Hidup seperti apa yang akan saya pilih dan bagaimana saya menjalaninya? Tapi manalah ada anak yang pikirannya udah terlalu advanced begitu. Mungkin di pikiran anak-anak yang masih polos itu cita-cita hanyalah sekadar bentuk pemujaan terhadap tokoh yang dikaguminya, sehingga mereka ingin menjadi seperti tokoh idola ketika sudah dewasa. Okelah, saya yang nggak mengidolakan siapa-siapa (lantas nggak punya cita-cita) saat itu bisa dimaafkan.
Lalu bagaimana ketika saya udah SMP? Udah punya cita-cita? Sempat sih mengagumi bapak saya yang juru gambar. Waktu itu saya suka gambar asal-asalan di meja gambar bapak, baca-baca buku mekanika bangunan yang ada di lemarinya, liat-liat blueprint bangunan yang sedang dikerjakannya, nyolong pensil dan bulpen Rotringnya buat dipake di sekolah (padahal kan ujungnya tipis kayak jarum). I totally admire my father’s job. Tapi maukah saya jadi arsitek kalau udah gede? Masih nggak berminat juga ternyata. Dan masih membenci dokter karena ditambah lagi saat itu saya udah tau kuliah kedokteran mahal banget, dan lama banget.
Sampai saya duduk di bangku SMA pun saya masih nggak punya cita-cita. Okay, this is getting pathetic. Bagaimana mungkin saya nggak punya cita-cita, impian, dan keinginan hendak menjadi apa saat besar nanti? How am I gonna live my life? I got serious issue… Apa kek gitu ya? Jadi penyanyi dangdut, tukang nasi goreng, guru TK, penari, fotografer, astronot, atau presiden sekalipun. But no, dari ribuan jenis profesi yang ada, nggak satupun menarik minat saya, kepikiran pun nggak.
Saat itu saya benar-benar nggak punya gambaran bagaimana hidup yang saya mau kelak, bagaimana cara saya untuk mewujudkan hidup yang saya impi-impikan itu, rintangan apa yang mungkin akan menghalangi saya… Intinya, saya tau masa depan itu benar-benar ada dan sedang menanti saya, tapi saya nggak punya rencana bagaimana saya akan menghadapinya. Mungkin ceritanya akan berbeda jika saja saya diberitahu akan menjadi apa kelak sehingga saya bisa mempersiapkan diri (mimpi deh lo!) — untuk mencegahnya apabila kelak ternyata masa depan saya buruk, atau sebaliknya berupaya mewujudkannya apabila masa depan saya cerah.
Tapi ke(hampir)tidakpedulian saya tentang masa depan itu yang membuat saya tidak takut untuk menghadapinya. Buat saya hidup itu untuk dijalani, bukan untuk dipikirkan (sok kemikir), dan kadang saya pikir saya memang orang yang live for today banget
Well, not kind of live today for today, much more like live today for tomorrow.
Bagaimana sekarang? Menyesalkah saya dulu nggak punya cita-cita? Well, kalau cita-cita itu adalah sebuah pekerjaan, saya memang nggak mencintai pekerjaan saya sekarang, dan sayangnya keinginan saya untuk menjadi seorang (ada deh) datang agak terlambat, secara saya nggak bisa seenak udel keluar dari ikatan dinas. But it’s okay… You don’t have to be in love with your job, right? Just ask thousands of people out there.
Tapi tenang saja, saya udah punya cita-cita kok… Suatu saat nanti saya ingin menjadi seorang ibu

6 Comments
July 21, 2008 at 10:18 am
wow.. teuteup yaaaa.
pasti pengen jadi ibu.
bukan bunda kan, as is bunda dorce…
July 21, 2008 at 10:40 am
hmm…
hidup itu emang buat dijalanin kok, dengan atau tanpa cita-cita.
Cuman, nurut saya nih (yang lagi sok pinter ini.. hehe), cita-cita atau mimpi bikin hidup kita lebih terarah…
Makanya saya ngeblog nih Luz. UNtuk memuaskan hasrat saya jadi penulis.
Mungkin kamu benernya cocok jadi penulis juga kali? We’ll never know kaaannn…
Dan soal jadi Ibu itu…
ah…saya banget!! hehehe…
July 24, 2008 at 12:02 am
Jadi ibu yang baik, ya…
July 24, 2008 at 3:18 pm
knapa dulu gak ada yang jawab pengen jadi blogger yah?
August 29, 2008 at 2:02 am
[...] tenanglah dik, siapapun kamu, setelah membaca postingan saya yang ini saya yakin adik merasa jauh lebih baik karena saya aja sampe sekarang belum punya cita-cita, [...]
October 25, 2008 at 3:18 pm
KPP mana jeng?